Minggu, 08 April 2012

TUGAS KEPEMIMPINAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar belakang
            Sejak nenek moyang dahulu kala, kerjasama dan saling melindungi telah muncul bersama-sama dengan peradapan manusia. Kerjasama tersebut muncul pada tata kehidupan sosial masyarakat atau kelompok-kelompok manusia dalam rangka untuk mempertahankan hidupnya menentang kebuasan binatang dan menghadapi alam sekitarnya.
Berangkat dari kebutuhan bersama tersebut, terjadi kerjasama antar manusia dan mulai unsur-unsur kepemimpinan. Orang yang ditunjuk sebagai pemimpin dari kelompok tersebut ialah orang-orang yang paling kuat dan pemberani, sehingga ada aturan yang disepakati secara bersama-sama misalnya seorang pemimpin harus lahir dari keturunan bangsawan, sehat, kuat, berani, ulet, pandai, mempunyai pengaruh dan lain-lain. Hingga sampai sekarang seorang pemimpin harus memiliki syarat-syarat yang tidak ringan, karena pemimpin sebagai ujung tombak kelompok.
Seorang pemimpin harus mampu memperhatikan dan berusaha untuk mempengaruhi serta mendorong karyawannya agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Seorang pemimpin harus menerapkan pola kepemimpinan yang tepat, sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Menurut Heidjrahman dan Husnan (2000:225) berbagai perilaku pemimpin antara lain: pertama the autocratic leader atau pemimpin otokratik yaitu seorang pemimpin yang otokratik menganggap bahwa semua kewajiban untuk mengambil keputusan, untuk menjalankan tindakan, dan untuk mengarahkan, memberi motivasi dan mengawasi bawahannya terpusat ditangannya, kedua the participative leader atau pemimpin partisipatif yaitu apabila seorang pemimpin menggunakan gaya partisipatif ia menjalankan kepemimpinannya dengan konsultasi, dan ketiga the free rein leader yaitu apabila pemimpin menyerahkan tanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut kepada para bawahan, dalam artian pimpinan menginginkan agar para bawahan bisa mengendalikan diri mereka sendiri di dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Faktor Kepemimpinan
1.        Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu. (Tannebaum, Weschler and Nassari, 1961, 24)
2.        Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7)
3.        Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama. (Rauch & Behling, 1984, 46)
4.        Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan. (Jacobs & Jacques, 1990, 281)
5.        Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan. (Jacobs & Jacques, 1990, 281)
6.        Menurut Sarros dan Butchasky (1996), "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan
terjadi apabila seseorang dapat mengerahkan kemampuannya untuk dapat mempengaruhi orang lain baik secara perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Dari definisi yang telah ada, maka kepemimpinan dapat terjadi jika ada faktor-faktor dari seseorang yang menjadi pemimpin, para pengikutnya, serta situasi dimana pemimpin dapat menerapkan kepemimpinannya terhadap para pengikutnya guna mencapai tujuan tertentu.
2.2 Tipe Kepemimpinan
Tipe-tipe pemimpin dari beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dapat menjadi pemimpin yaitu :
1.        Leader by the position achieved (Seseorang yang menjadi pemimpin dikarenakan posisi yang diperolehnya).
Contohnya : Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono adalah Presiden RI ke enam dan Presiden pertama yang dipilih langsung oleh Rakyat Indonesia. Bersama Drs. M. Jusuf  Kalla sebagai wakil presidennya, beliau terpilih dalam pemilihan presiden di 2004 dengan mengusung agenda "Indonesia yang lebih Adil, Damai, Sejahtera dan Demokratis", mengungguli Presiden Megawati Soekarnoputri dengan 60% suara pemilih. Pada 20 Oktober 2004 Majelis Permusyawaratan Rakyat melantik beliau menjadi Presiden. Pada tanggal 20 Oktober 2009, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono kembali di lantik sebagai Presiden RI untuk periode 2009-2014, setelah bersama pasangannya Prof. Dr. Boediono memenangkan Pemilihan Umum Presiden pada 8 Juli 2009 dalam satu putaran langsung dengan memperoleh 60,80%, mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto.
2.        Leader by personality, charisma (Seseorang yang menjadi pemimpin dikarenakan kepribadiannya yang menonjol atau kharisma yang dimilikinya.
Contohnya : Ahmad Dinejad merupakan seseorang yang menjadi pemimpin dikarenakan kepribadiannya dan kharisma yang dimilikinya.
3.        Leader by moral example (Seseorang yang menjadi pemimpin karena memiliki moral yang baik, menjadi contoh moral bagi banyak orang.
Contohnya : Nabi Muhammad
4.        Leader by power held (Seseorang yang menjadi pemimpin dikarenakan kekuasaan yang dimilikinya.
Contohnya : Muammar Khadafi
5.        Intellectual leader (Seseorang kemampuan intelektualnya.)
Contohnya : Seorang pejabat staf khusus di Bappenas.
6.        Leader becouse of ability to accomplish things (Seseorang yang menjadi pemimpin dikarenakan keberhasilannya mencapai prestasi tertentu.)
Contohnya : Stephen Gerrald, pria bertinggi badan 188 cm, sampai sekarang masih  bermain untuk Liverpool F.C. sejak tahun 1997.

2.3 Gaya Kepemimpinan
Menurut Miftah Thoha, ada empat gaya dasar kepemimpinan yang biasa dipakai
dalam pengambilan keputusan yaitu :
1.        Delegating, perilaku pemimpin ini rendah dukungan dan rendah pengarahan atas tugas yang diberikan kepada bawahan. Bawahanlah yang memiliki kontrol untuk memutuskan tentang bagaimana cara pelaksanaan tugas. Pemimpin memberikan kesempatan yang luas bagi bawahan untuk melaksanakan pertunjukan mereka sendiri karena mereka memiliki kemampuan dan keyakinan untuk memikul tanggung jawab dalam pengarahan perilaku mereka sendiri. Gaya kepemimpinan delegasi banyak terdapat pada struktural pemerintahan. Di Bappenas contohnya, seorang deputi dalam melaksanakan tugasnya lebih banyak mendelegasikan kepada direktur-direktur sesuai bidangnya, deputi tersebut tidak mengetahui secara detail program-program apa saja yang dilakukan oleh para direkturnya. deputi tersebut hanya memperoleh laporan secara umum atas program yang telah dilakukan.
2.        Participating, pemimpin dengan gaya kepemimpinan partisipasi, lebih menekankan pada dukungan tetapi rendah pengarahan, karena posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian. Pemimpin dan pengikut saling tukar-menukar ide dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Tanggung jawab pemecahan masalah dan pembuatan keputusan sebagian besar berada pada pihak pengikut. Contohnya : Koperasi Karyawan/Koperasi Pegawai.
3.        Consultation, perilaku pemimpin ini tinggi pengarahan dan tinggi dukungan. Pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan masih membuat hampir sama dengan keputusan, tetapi hal ini diikuti dengan meningkatnya komunikasi dua arah dan perilaku mendukung. Meskipun dukungan ditingkatkan, pengendalian (control) atas pengambilan keputusan tetap pada pemimpin. Contohnya : pemimpin organisasi/LSM. Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di dalam setiap melaksanakan tugas-tugasnya, biasanya membahas setiap permasalahan dalam rapat bersama pengurus BEM lainnya. Keputusan yang dihasilkan biasanya merupakan kesepakatan bersama.

4.        Instruction, gaya pemimpin tipe ini dicirikan dengan komunikasi satu arah. Pemimpin memberikan batasan peranan pengikutnya dan memberitahu mereka tentang apa, bagaimana, bilamana, dan dimana melaksanakan berbagai tugas. Inisiatif pemecahan masalah dan pembuatan keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin. Contoh tipe kepemimpinan instruction ada pada para petinggi/panglima TNI, dimana dibutuhkan komunikasi hanya satu arah, dan bersifat perintah kepada bawahannya.

BAB III
KEPEMIMPINAN MUAMMAR AL-QADDAFI

3.1 Biografi Muammar Al-Qaddafi
Muammar Abu Minyar al-Qaddafi lahir di Surt, Tripolitania, 7 Juni 1942, anak termuda dari sebuah keluarga miskin Badawi (Bedouin) di daerah gurun pasir di Sirte. Ibunya seorang Yahudi yang memeluk agama Islam sejak usia 9 tahun. Hal ini membuat Judaisme menganggap Khadafi seorang Yahudi. Muammar Khadafi mengenyam pendidikan SD tradisional yang religius dan pada usia remaja bersekolah di SMU Sebha di Fezzan dari 1956 hingga 1961. Khadafi dan sekelompok kecil teman-temannya yang dia temui di sekolah ini kemudian membentuk kepemimpinan utama dari sebuah kelompok revolusiner militan yang kelak merebut kekuasaan negara Libya. Inspirasi bagi Khadafi adalah Gamal Abdul Nasser, seorang negarawan yang populer di Mesir, yang naik ke takhta kepresidenan dengan meminta persatuan Arab dan menghujat Barat. Pada 1961, Khadafi dikeluarkan dari Sebha karena aktivitas politiknya.
            Dia kemudian kuliah di Universitas Libya, di mana dia lulus dengan nilai yang sangat baik. Dia lalu bergabung dengan Akademi Militer di Benghazi pada 1963, di mana dia dan beberapa rekan militannya membentuk sebuah kelompok rahasia yang bertujuan menjatuhkan monarki Libya yang pro-Barat. Setelah lulus pada 1965, dia dikirim ke Britania untuk latihan lanjutan, dan kembali pada 1966 sebagai seorang opsir dalam Korps Sinyal. Khadafi mempunyai delapan anak, tujuh di antaranya lelaki. Putranya yang paling tua, Muhammad Khadafi adalah ketua Komite Olimpiade Libya. Putra tertua kedua Al-Saadi Khadafi, adalah ketua Federasi Sepak Bola Libya, bermain di tim Seri A, Perugia, dan juga bermain film. Satu-satunya putrinya, Ayesha Khadafi, adalah seorang pengacara yang telah bergabung dengan tim pengacara Saddam Hussein.

3.2     Keluarga
Khadafi menikah dengan:

Dia juga dikatakan telah mengadopsi dua anak, yaitu:

3.3    Diplomasi Washington
Tahun 1951, Amerika Serikat mendukung kemerdekaan Libya dan disusul peningkatan hubungan bilateral sampai tingkat kedutaan. Hubungan Libya-Amerika Serikat terhenti ketika Kapten Muammar Khadafi memimpin Revolusi Al Fatah untuk menyingkirkan Raja Idris pada 1969. Sejak 1969, jabatan yang Khadafi bukan jabatan resmi, tetapi ia menyandang "Guide of the First of September Great Revolution of the Socialist People's Libyan Arab Jamahiriya" atau "Brotherly Leader and Guide of the Revolution".Setelah berkuasa, Khadafi yang telah berpangkat kolonel melancarkan revolusi budaya yang mengandung inti penyingkiran semua ideologi dan pengaruh yang berbau asing, seperti kapitalisme dan komunisme. Ia kemudian mengembangkan masyarakat baru berdasarkan prinsip-prinsip sosialisme Libya dengan semboyan "sosialisme, persatuan, dan kebebasan". Semenjak ini hubungan kedua negara semakin memburuk dan mencapai titik terendah. Massa yang anti-AS menggelar demonstrasi pro-Iran pada Desember 1979. Massa membakar gedung Kedutaan Besar AS di Tripoli menjadi akhir dari demonstrasi tersebut.
Masih pada tahun 1979, pesawat-pesawat tempur AS menembak jatuh dua pesawat tempur Libya di atas Teluk Sidra. Insiden itu memperburuk hubungan kedua negara. Setelah menyatakan bahwa Libya sebagai "negara sponsor terorisme", AS menutup kedutaannya di Tripoli pada Februari 1980. Sementara, Libya juga menutup kedutaannya di Washington. Pada Januari 1986, Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan memerintahkan penghentian hubungan dagang dan ekonomi dengan Libya. Langkah ini disusul dengan pembekuan aset-aset Libya di AS. Bukan hanya menutup diplomatik, keuangan dan perdagangan, tapi juga berusaha menyingkirkan Khadafi. Pesawat-pesawat tempur AS memborbardir Tripoli, Benghazi, dan rumah Khadafi pada April 1986. Tindakan itu sebagai balasan atas pemboman sebuah diskotek di Berlin Barat yang dipakai sebagai tempat hiburan tentara AS.
            Gempuran pesawat tempur AS menewaskan setidaknya 15 orang, termasuk putri Khadafi yang masih kanak-kanak. Posisinya dengan Libya makin tersudut menyusul terjadinya ledakan pesawat Pan AM dengan nomor penerbangan 103 pada Desember 1988. Pesawat yang berangkat dari London menuju New York meledak di atas Lockerbie (Skotlandia) dan menewaskan 259 orang di pesawat serta 11 orang lainnya tewas di darat. Akibat tindakan itu, Dewan Keamanan PBB menerbitkan resolusi 748 dan 883 pada tahun 1992/1993. PBB menjatuhkan sanksi atas Libya, membekukan aset-aset, dan mengembargo perlengkapan penambangan minyak secara selektif. Tahun 1999, Libya menyatakan bertanggung jawab atas tragedi Lockerbie. Tripoli menyerahkan dua terdakwa peledakan pesawat untuk diadili di Belanda dan bersedia membayar ganti rugi kepada keluarga korban senilai 2,7 miliar dollar AS pada tahun 2003. Atas langkah ini, Dewan Keamanan PBB mencabut sanksi dan didukung AS.
            Sikap Washington berubah ketika Khadafi mengakui bahwa Libya mengembangkan senjata pemusnah massal dan segera memusnahkan semua program pada Desember 2003. Pengakuan dan tekad tersebut mencairkan kebekuan hubungan Tripoli-Washington. Sejak kedua negara meningkatkan kontrak dan berusaha menyingkirkan hambatan hubungan diplomatik, perusahaan-perusahaan minyak masuk kembali ke Libya. Keputusan Washington pada 15 Mei 2006 untuk memulihkan kembali hubungan diplomatik memang mengejutkan karena Libya dinilai membantu terorisme. Tetapi, ada faktor politik dan positif di balik mencairnya hubungan Khadafi dan Presiden George W Bush.



BAB IV
PEMBAHASAN

Kepemimpinan Muammar Khadafi didapat dari kudata militer, dalam kepemimpinannya khadafi merubah konstitusi Libya menjadi undang - undang berdasarkan ideologi politiknya. Dan gerak gerik masyarakat dibungkam jadi pengaturan negaranya hanya berpihak dalam ideologinya tanpa menerima masukan dari rakyatnya. Masyarakat dipaksa untuk mengikuti kekuasaannya dengan mengandalkan kekuatan militernya, tapi dalam kekuasaannya kekuasaan khadafi terlalu berlebihan dalam membungkam rakyatnya.
Tipe Kepemimpinan Muammar Khadafi adalah Leader by power held. Seseorang yang menjadi pemimpin dikarenakan kekuasaan yang dimilikinya. Gaya kepemimpinan muammar khadafi termasuk dalam gaya otokratik, karena muammar khadafi memaksa rakyatnya untuk mematuhi segala perintahnya, dan gerakan masyarakat sangat dibatasi. Sebenarnya gaya kepemimpinan otokratik sangat bagus, tapi khadafi terlalu berlebihan sehingga rakyat malah menjadi tidak puas dalam kepemimpinannya dan malah mejadi memberontak pada kepemimpinannya.
 Runtuh kepemimpinannya berawal dari demo ketidakpuasan rakyat libya pada presiden khadafi, tapi khadafi malah melawan demonstran dengan mengerahkan kekuatan militernya bahkan khadafi tidak segan dengan menembak mati para demonstran, sehingga NATO geram dengan keputusan khadafi dalam menghadapi demonstran yang tidak prikemanusiaan. Akhirnya NATO membantu rakyat yang menentang kepemimpinan khadafi, dan perang saudara pun tak terelakan yang akhirnya khadafi terbunuh dalam serangan rakayat yang geram dengan kepemimpinannya.
Dilihat dari teori kepemimpinan sifat ( trait theory ) menurut Keith Devis keberhasilan seorang pemimpin harus memiliki 4 sifat yaitu : Kecerdasan, Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial, motivasi diri dan dorongan berprestasi dan sikap hubungan kemanusiaan. Belum semua sifat diatas khadafi miliki satu hal yang khadafi belum miliki yaitu sikap hubungan kemanusiaan, dimana khadafi belum bisa menghormati hak rakyatnya.
Dalam teori kepemimpinan perilaku dan situasi, dijelaskan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula. Dari segi persepsi, seorang pimpinan yang otokratik adalah seorang yang sangat egois. Dan dalam menterjemahkan disiplin kerja bawahan adalah dengan perwujudan kesetian bawahan kepada dirinya. Sehingga dalam mengembangkan persepsinya bahwa tujuan organisasi itu identik dengan tujuan pribadinya. Karena organisasi diperlakukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadinya.
            Dari segi nilai yang dianut, pemimpin otokratik itu menganut nilai bahwa segala sesuatu tindakannya dianggap benar bilamana tindakan tersebut adalah untuk mempercepat tercapainya tujuan-tujuannya. Dan bilamana ada suatu tindakan yang dianggap tidak benar, maka tindakan tersebut dianggap sebagai penghalang dan harus disingkirkan.
            Dari segi sikap yang diambil, pemimpin otokratik itu akan menunjukkan sikapnya dalam bentuk:
  • Kecenderungannya memperlakukan bawahan sama dengan alat dalam organisasi dan kurang menghargai harkat dan martabat bawahannya.
  • Mengutamakan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa adanya keterkaitan dengan kepentingan dan kebutuhan bawahan.
  • Mengabaikan peranan bawahan dalam proses pengambilan keputusan, sehingga bawahan hanya dituntut untuk sebagai pelaksana saja.
            Dari segi perilaku, pemimpin otokratik akan sangat sulit bahkan tidak akan mau menerima saran dan pandangan dari bawahannya. Terlebih lagi dalam bentuk kritik, maka dapat diartikan sebagai usaha merongrong kekuasaannya.
Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut:
1.       Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi
2.       Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
3.       Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; Tidak mau menerimsaran dan pendapat
4.       Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya
5.       Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
a.       Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
b.       Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
c.        Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi menggunakan pendekatan punitif dalam hal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.
Lambat laun gaya kepemimpinan ini dianggap tidak sesuai lagi seiring perkembangan zaman, sehingga terjadi perubahan struktur organisasi dan gaya kepemimpinan.



BAB V
KESIMPULAN

Tipe Kepemimpinan Muammar Khadafi adalah Leader by power held (Seseorang yang menjadi pemimpin dikarenakan kekuasaan yang dimilikinya). Gaya kepemimpinan muammar khadafi termasuk dalam gaya otokratik, karena muammar khadafi memaksa rakyatnya untuk mematuhi segala perintahnya, dan gerakan masyarakat sangat dibatasi.
Dengan demikian, gaya kepemimpinan seseorang yang otokratik dalam prakteknya mempunyai gaya sebagai berikut:
  • Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya.
  • Dalam hal penegakan disiplin, gaya kepemimpinannya akan bersifat kaku.
  • Bernada keras dan paksa dalam pemberian perintah atai instruksi.
  • Menggunakan pendekatan punitif (hukuman) bilamana terjadi kesalahan atau penyimpangan oleh bawahan.
Permasalahan yang timbul dengan gaya kepemimpinan ini adalah sebagai berikut:
  • Keberhasilan yang dicapai adalah karena ketakutan bawahan terhadap atasannya dan bukan atas dasar keyakinan bersama.
  • Disiplin yang terwujud selalu dibayang-bayangi dengan ketakutan akan hukuman yang keras bahkan pemecatan.
  • Untuk efektifitas kinerja bawahan akan melorot drastis jika ketaatan dan disiplin kerja menurun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar